
Umrah di bulan Ramadan, i'tikaf di Masjidil Haram, mencari Lailatul Qadar, lalu menyambut Idulfitri di Makkah. Program ini disusun untuk jemaah yang ingin memberi ruang lebih besar bagi ibadah di penghujung Ramadan.
Umrah Ramadan memiliki keutamaan khusus. Rasulullah ﷺ beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan, dan pada malam-malam itulah Lailatul Qadar dicari.
Umrah pada bulan Ramadan menyamai haji dalam pahala. Keutamaan ini tidak menggugurkan kewajiban Haji.
HR. Bukhari 1782Rasulullah ﷺ beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat.
HR. Bukhari 2026Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.
HR. Bukhari 2017QS. Al-Baqarah:125 menyebut tawaf, i'tikaf, rukuk, dan sujud di Baitullah.
QS. Al-Baqarah:125Istri, mertua, dan adik ipar sudah lebih dulu mendaftar Umrah Ramadan. Saya baru benar-benar ingin ikut setelah melihat mereka akan berangkat. Ketika akhirnya saya bertanya, kuota paket mereka sudah penuh.
Saya lalu mencari program I'tikaf dengan jadwal yang berdekatan. Sejujurnya, saat itu dana yang benar-benar tersedia baru cukup untuk DP Rp5 juta. Bisa dibilang nekat.
Setelah DP, saya justru semakin serius mematangkan rencana. Saya membuat planner, menghitung biaya, kewajiban yang tetap harus berjalan, tenggat pelunasan, dan skenario jika pemasukan tambahan tidak datang sesuai rencana. Di saat yang sama, saya berusaha memperbaiki niat, menjaga salat lebih baik, bertaubat, dan terus memohon kepada Allah agar dimudahkan menyelesaikan pelunasan.
Di tengah proses itu, alasan berangkat menjadi lebih personal. Ibu sedang sakit berat. Di pesawat, doa untuk beliau membuat saya menangis. Saat tawaf tujuh putaran, nama beliau terus saya sebut.




Di rombongan ada first timer seperti saya, ada yang sudah pernah umrah atau haji, ada keluarga, pasangan, jemaah yang datang sendiri di usia 50-an, bahkan ada yang sudah dua kali mengikuti program I'tikaf serupa.
Perbedaan itu terasa setelah beberapa hari. Ada yang kuat hampir setiap malam ke Haram. Ada yang memilih malam ganjil. Ada yang perlu memberi tubuh waktu untuk pulih. Ritme orang lain tidak bisa dipakai sebagai ukuran kemampuan diri sendiri.
IndiGo berangkat sore dari Jakarta. Transit Mumbai terjadi tengah malam sampai dini hari: banyak berjalan, antre pemeriksaan, dan membawa tas kabin dari satu titik ke titik berikutnya. Tas yang terasa biasa saja saat berangkat mendadak terasa terlalu besar ketika badan mulai lelah.
IndiGo juga bukan maskapai full service. Makanan tidak otomatis tersedia seperti pada maskapai tertentu. Perubahan zona waktu sempat membuat waktu berbuka terasa membingungkan bagi sebagian jemaah. Detail seperti ini baru terasa penting ketika kita sedang puasa dan berada di udara.
Dari Jeddah kami naik bus menuju Makkah, mendapat sahur di perjalanan, berhenti untuk Subuh, dan tiba di hotel sekitar pukul 07.00. Setelah itu bersiap Umrah. Di area Haram kami sempat menunggu rombongan yang ke toilet sekitar 30–60 menit, sementara cuaca sudah panas. Hari pertama terasa sangat panjang.
Saya baru merasa tubuh mulai beradaptasi sekitar hari keempat.
Lihat alur penerbangan, hotel, transportasi, dan kebutuhan program sebelum memutuskan.
Sebelum berangkat saya sempat membayangkan shuttle hotel jauh seperti video-video yang sering lewat di FYP: orang berdesakan dan berebut bus saat pulang dari Haram.
Di perjalanan kami, bus pertama di-charter khusus untuk rombongan. Sekitar pukul 14.00–14.30 kami berkumpul di lobi, lalu bus berangkat dari depan hotel. Perjalanan pertama sekitar 20 menit menuju titik transit. Setelah itu kami turun, berjalan kira-kira lima menit, melanjutkan kendaraan berikutnya, lalu dari area akhir masih berjalan sekitar sepuluh menit menuju Masjidil Haram.
Pulang setelah Subuh juga punya pola yang jelas. Kami kembali ke posko, menunggu kelompok lengkap, lalu bus bergerak. Selama perjalanan itu saya tidak pernah ketinggalan bus. Pada malam 27, arus pejalan kaki keluar dari Haram memang sangat padat, tetapi ketika sampai area bus, proses boarding tetap teratur.



Kady sendiri nyaman untuk istirahat: kamar quad cukup lega, kamar mandi besar, air panas aman, AC dan Wi-Fi bekerja, lift relatif tidak padat. Di samping hotel ada apotek. Jadi akses ke Haram memang lebih panjang, sementara fungsi hotel sebagai tempat pulih justru terasa sangat baik.
Ritme I'tikaf akhir Ramadan tidak berhenti setelah Tarawih. Dari siang sampai setelah Subuh, tubuh, makan, toilet, posisi, dan barang bawaan semuanya ikut menentukan.
Malam pertama saya keluar saat Tarawih untuk mencari makan. Ketika kembali, akses yang tadi dipakai sudah ditutup. Sulit kembali ke posisi semula. Pada hari lain saya pergi ke toilet setelah Ashar; selesai dari toilet, jalur kembali ke tempat awal juga berubah.
Dari sana saya mulai paham kenapa jemaah perlu mengenal landmark, posko, dan beberapa alternatif rute. Menghafal satu jalur saja tidak cukup karena crowd management bisa mengubah arah eskalator, menutup pintu, atau mengalihkan lantai.





Setelah pernah kehilangan akses kembali, saya jadi berpikir dua kali setiap kali hendak keluar. Saya bahkan sempat mengurangi minum karena takut terlalu sering ke toilet. Itu bukan solusi yang sehat, tetapi menunjukkan bagaimana keputusan kecil bisa berubah ketika kita berada di crowd.
Pada perjalanan 2026, makan selama fase I'tikaf di Makkah belum termasuk dalam harga paket. Travel menyediakan catering tambahan. Saat melihat biayanya sekitar Rp125.000 sekali makan, saya memilih tidak mengambilnya. Dari Indonesia, angka itu terasa mahal.
Setelah dijalani, cara melihatnya berubah. Mencari makan sendiri di Makkah bisa berarti keluar dari posisi, berjalan lebih jauh, memakai tenaga, dan menghadapi kemungkinan akses kembali sudah berubah. Arsip grup saat itu mencatat paket sekitar Rp1,25 juta untuk salah satu waktu makan, atau Rp2,5 juta untuk buka dan sahur.
Ini salah satu perubahan yang paling saya syukuri dari program MK 2027. Jemaah tidak perlu lagi memutuskan setiap hari apakah akan membeli catering tambahan atau keluar mencari makan sendiri di tengah ritme I'tikaf.
Saya membawa tas terlalu besar dan masih membawa laptop karena pekerjaan. Saat transit tengah malam, barang itu berubah menjadi beban nyata. Jemaah yang lebih berpengalaman justru terlihat membawa daily-carry jauh lebih ringan.
Tidak perlu saya bawa dari Indonesia. Saya membelinya di Kakiyah sekitar 20 SAR setelah tawar-menawar. Pada malam padat, saat ruang tidak cukup untuk rebahan, sandaran kecil itu ternyata sangat membantu.
Protein bar menjadi salah satu snack yang paling membantu ketika akses ke makanan berat terbatas. Menjelang malam 27, saya sampai meminta tambahan dari istri.
Saya berangkat tanpa membawa Riyal. Cash kemudian didapat lewat tukar uang dan ATM sebagai backup. Untuk internet saya memilih roaming nomor Indonesia. Pelajarannya sederhana: jemaah perlu memahami pilihannya sebelum berangkat, bukan baru mencari solusi ketika sudah tiba.



Program 2027 tetap membawa inti yang sama: I'tikaf pada penghujung Ramadan dan Lebaran di Makkah, dengan makan dan transport hotel–Masjidil Haram yang sudah disiapkan dalam program.
Madinah berupa prasmanan hotel. Di Makkah berupa nasi kotak; buka dibagikan di hotel dan sahur dibagikan di masjid.
Hotel Makkah memang berjarak jauh dari Masjidil Haram. Shuttle antar-jemput sudah disediakan dalam program.
Pada pengalaman 2026, catering selama fase I'tikaf Makkah merupakan biaya tambahan. Di program MK 2027, makan utama selama program sudah masuk dalam harga paket. Jemaah juga tidak perlu mengatur kendaraan hotel–Masjidil Haram secara mandiri.
Penerbangan internasional, hotel sesuai program, visa Umrah dan asuransi, handling selama di Saudi, tour leader dari Indonesia, transportasi sesuai program, shuttle hotel–Masjidil Haram selama fase Makkah, makan sahur dan buka selama program, bagasi sesuai ketentuan maskapai, air Zamzam, manasik Umrah, serta layanan lain sesuai program yang berlaku.
Tiket domestik menuju Jakarta, paspor, perlengkapan Umrah, vaksin, ekstra bagasi, dan pengeluaran pribadi. Perlengkapan Umrah dapat dibeli di MK sesuai kebutuhan.
Aktivitas yang ditandai tentative mengikuti izin, kuota, kebijakan Saudi, serta kondisi operasional yang berlaku saat keberangkatan.
Pada hari biasa, rombongan berangkat sekitar pukul 14.00. Menjelang malam 27, jadwal dimajukan. Seorang teman yang sudah pernah mengalami malam 27 mengingatkan: begitu mendapat posisi, jangan mudah keluar hanya untuk mencari makan atau kebutuhan kecil.
Bekal saya saat itu: tiga protein bar, dua sachet madu, sajadah sandar, power bank, tumbler kecil untuk Zamzam, jaket, dan syal. Sekitar Zuhur saja area sudah terasa jauh lebih penuh daripada hari biasa.
Ibadah tetap bisa diikuti sampai Tarawih, rangkaian salat malam, Witir, dan Qunut.
Arus pejalan kaki menuju arah Jabal Ka'bah masih sangat padat sekitar pukul 06.00. Setelah mencapai area bus, situasinya berbeda: proses naik kendaraan tetap teratur dan perjalanan kembali ke hotel berjalan normal.


Setelah malam 27, kondisi fisik saya terus turun. Malam takbiran sekitar pukul 22.00 saya mencoba menyusul istri dan mertua. Titik turun jauh dari Haram. Dalam keadaan lemas saya masih membawa oleh-oleh dari Kakiyah, dan sekitar tengah malam baru sampai di hotel istri.
Akhirnya saya memilih tetap di kamar. Istri salat Id di jalan depan hotel. Mertua bisa berada di Masjidil Haram karena sudah berangkat sejak sekitar tengah malam.
Paginya, setelah salat Id selesai, saya bertemu lagi dengan istri, mertua, dan adik ipar. Badan masih belum benar-benar pulih, tetapi melihat mereka lengkap dan tersenyum membuat pagi itu terasa jauh lebih ringan. Setelah hari-hari terakhir Ramadan kami jalani dengan ritme dan tempat yang berbeda, bisa berkumpul lagi di pagi Idulfitri menjadi salah satu momen yang paling saya syukuri.
Di titik itu saya benar-benar paham: memaksimalkan Ramadan tidak berarti memaksakan tubuh sampai tidak sanggup menjalani ibadah berikutnya.

Setelah Idulfitri rombongan menuju Madinah. Hotel Riyadh Az Zahra terasa dekat ke Masjid Nabawi, sekitar tujuh sampai sepuluh menit berjalan kaki. Tetapi kondisi badan saya belum pulih, jadi banyak waktu di Madinah lewat dalam keadaan sakit.
Upaya masuk Raudhah juga tidak berhasil meskipun travel sudah mencoba jalur izin dan Nusuk. Karena itu, hal seperti Raudhah memang lebih jujur ditulis sebagai tentative.
Justru setelah pulang, rasa ingin kembali makin kuat. Ada bagian Madinah yang terasa belum selesai.
Pengalaman 2026 tidak membuat saya kapok. Justru membuat saya ingin kembali dengan persiapan yang lebih matang.
Bukan hanya gym. Saya ingin tubuh terbiasa jalan ke masjid, berdiri lebih lama, bangun malam, puasa, dan tidur terpotong.
Apa yang benar-benar perlu ada di tas dari siang sampai setelah Subuh, dan apa yang sebaiknya tinggal di hotel.
Jemaah tahu jumlah perpindahan, jarak jalan kaki, landmark, dan apa yang dilakukan ketika jalur berubah.
Jam berangkat, makanan, power bank, toilet, posisi, meeting point, dan recovery dibahas sebelum hari itu tiba.
Perlu persiapan fisik, pola tidur, hidrasi, tanda kapan harus istirahat, dan untuk kebutuhan khusus perempuan dibicarakan lebih awal bersama tenaga kesehatan.
Cash, kartu/ATM, roaming, eSIM, atau SIM lokal dipahami sebagai pilihan dengan trade-off masing-masing.
Inilah dasar mengapa persiapan program MK diarahkan lebih luas dari manasik ibadah. Tata cara Umrah tetap penting, lalu ditambah simulasi ritme Ramadan, flight dan transit, hotel dan bus, crowd, makanan, kesehatan, uang, konektivitas, serta recovery. Detail akhirnya harus mengikuti operasional program 2027 dan kondisi masing-masing jemaah.
Ya. Kadi Palace berada cukup jauh dari Masjidil Haram. Untuk program 2027, shuttle bus antar-jemput hotel–Masjidil Haram sudah disiapkan. Jam operasional dan titik turun akan dijelaskan dalam briefing program sebelum keberangkatan.
Ya. Selama di Madinah, sahur dan buka puasa disajikan prasmanan di hotel. Selama di Makkah, makan berupa nasi kotak; jatah buka dibagikan di hotel dan jatah sahur dibagikan di masjid.
Tidak semua jemaah menjalani intensitas yang sama. Pada pengalaman 2026 ada yang rutin, ada yang selang-seling, dan ada yang memprioritaskan malam ganjil. Kondisi fisik dan arahan pembimbing perlu menjadi pertimbangan.
First timer bisa ikut, tetapi perlu gambaran teknis yang lebih lengkap: transit, ritme hotel–Haram, crowd, toilet, makan, meeting point, dan recovery. Justru karena pertama kali, hal-hal itu sebaiknya dipahami sebelum keberangkatan.
Tidak. IndiGo bukan maskapai full service. Ketentuan makanan, minuman, bagasi, transit, dan kebutuhan selama penerbangan perlu dipahami sesuai tiket dan kebijakan maskapai yang berlaku.
Tidak dapat dijanjikan. Izin, Nusuk, kuota, dan kebijakan Saudi dapat berubah. Karena itu aktivitas seperti Raudhah ditulis tentative.

Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk kembali ke Baitullah dalam keadaan yang lebih siap dan lebih sehat. Bagi yang belum pernah berangkat, semoga Allah menguatkan niatnya, melapangkan rezekinya, memudahkan setiap ikhtiarnya, menjaga kesehatannya, dan mempertemukannya dengan waktu terbaik untuk menjadi tamu-Nya. Aamiin.
Tim Mutiara Ka'bah bisa membantu menjelaskan ritme program, kesiapan fisik, hotel, penerbangan, pembayaran, dan hal teknis lain sebelum Anda mengambil keputusan.